Review Anime Classroom of the Elite. Di awal 2026, Classroom of the Elite tetap menjadi salah satu anime psikologis dan strategi sekolah paling dibicarakan dan sering ditonton ulang oleh penggemar genre thriller intelektual. Hampir delapan tahun setelah season pertama tayang pada 2017, anime ini kembali naik daun setelah season ketiga yang tayang 2024-2025 berhasil menutup beberapa arc penting dengan baik, memicu gelombang reaksi di komunitas tentang arah cerita dan performa karakter utama. Classroom of the Elite bukan sekadar cerita siswa SMA yang bersaing; ia adalah potret dingin tentang manipulasi sosial, hierarki kelas, dan bagaimana individu bisa mengendalikan sistem dari bayang-bayang. Dengan protagonis Kiyotaka Ayanokouji—siswa misterius yang sengaja menyembunyikan kemampuannya—anime ini berhasil membangun ketegangan yang lambat tapi memikat. Di tengah banjir anime sekolah modern yang penuh romansa atau aksi berlebihan, Classroom of the Elite masih berdiri sebagai salah satu yang paling cerdas dan tak kenal kompromi. BERITA BASKET
Animasi dan Produksi yang Solid: Review Anime Classroom of the Elite
Animasi di Classroom of the Elite terasa sangat pas dengan nada ceritanya: clean, dingin, dan fokus pada ekspresi wajah serta bahasa tubuh. Warna-warna netral mendominasi—abu-abu, biru tua, dan putih—menciptakan suasana akademi elit yang steril dan penuh tekanan. Setiap frame dirancang untuk menonjolkan psikologi karakter: tatapan kosong Ayanokouji, senyum tipis yang menyembunyikan niat, atau keringat dingin di dahi lawan saat menyadari sedang dimanipulasi.
Tidak ada efek visual berlebihan atau sakuga spektakuler; malah kekuatan animasinya ada pada detail kecil—gerakan mata yang berubah dalam hitungan detik, jari yang mengetuk meja saat berpikir, atau sudut kamera rendah saat Ayanokouji mengamati dari kejauhan. Soundtrack karya Kana Shibue dan Hayato Matsuo juga mendukung suasana: piano minimalis yang tegang, string yang pelan tapi mengancam, dan silence yang sengaja panjang untuk membangun ketegangan. Di 2026, ketika banyak anime bergantung pada visual bombastis, pendekatan sederhana tapi presisi ini justru membuat Classroom of the Elite terasa lebih dewasa dan timeless.
Karakter yang Kompleks dan Psikologi yang Dalam: Review Anime Classroom of the Elite
Karakter adalah inti kekuatan anime ini. Kiyotaka Ayanokouji adalah protagonis anti-hero yang jarang ada: dingin, kalkulatif, dan hampir tanpa emosi di permukaan. Ia sengaja tampil biasa-biasa saja agar tidak menarik perhatian, tapi di balik itu ia menganalisis setiap orang seperti pion di papan catur. Perkembangannya sangat halus—bukan dari lemah jadi kuat, tapi dari seseorang yang tidak peduli jadi mulai mempertanyakan nilai pertemanan dan kebebasan.
Suzune Horikita, yang awalnya terlihat sebagai tsundere klasik, punya lapisan lebih dalam: ambisi keras, trauma keluarga, dan perlahan belajar bekerja sama. Karakter lain seperti Kikyo Kushida yang dua muka, Ken Sudo yang impulsif, atau Ryuuen Kakeru yang sadis juga tidak sekadar trope; mereka punya motivasi, kelemahan, dan backstory yang membuat konflik terasa pribadi. Hubungan antar karakter dibangun melalui dialog tajam, manipulasi halus, dan momen kecil yang mengungkap sisi manusiawi—seperti Ayanokouji yang diam-diam membantu tanpa mengharapkan balasan. Di era sekarang, ketika banyak anime mengejar karakter yang langsung disukai, Classroom of the Elite berani menampilkan orang-orang yang egois, licik, dan kompleks.
Strategi dan Ketegangan Psikologis yang Memikat
Inti cerita Classroom of the Elite adalah permainan strategi di balik sistem sekolah yang kejam. Siswa dibagi kelas berdasarkan “nilai” tersembunyi, dan setiap ujian—mulai dari tes tertulis, olahraga, hingga survei sosial—adalah medan perang psikologis. Ayanokouji sering menang bukan karena kekuatan fisik atau bakat mentah, tapi karena membaca niat orang lain, memprediksi gerakan lawan, dan memanfaatkan kelemahan sistem.
Setiap arc punya twist kecil yang mengguncang: pengkhianatan, aliansi sementara, atau pengorbanan yang tidak terduga. Tidak ada pertarungan fisik berlebihan; malah ketegangan datang dari dialog, tatapan, dan keputusan diam-diam. Season terbaru memperdalam tema ini dengan memperkenalkan ancaman yang lebih besar dari luar kelas, membuat taruhan semakin tinggi. Di 2026, ketika banyak anime bergantung pada aksi fisik atau romansa cepat, pendekatan psikologis dan intelektual ini membuat Classroom of the Elite terasa berbeda dan lebih memuaskan bagi penonton yang suka cerita cerdas.
Kesimpulan
Classroom of the Elite adalah anime yang berhasil menggabungkan thriller psikologis dengan setting sekolah elit menjadi sesuatu yang dingin, cerdas, dan sangat adiktif. Kiyotaka Ayanokouji dan dunianya memberikan cerita yang tidak hanya menghibur tapi juga memaksa penonton berpikir tentang manipulasi, nilai diri, dan harga dari kemenangan. Hampir satu dekade berlalu, anime ini masih terasa segar, sering ditonton ulang saat orang ingin sesuatu yang lebih dari sekadar ringan, dan tetap jadi salah satu yang paling direkomendasikan di genre strategi sekolah. Ia mengingatkan bahwa di dunia yang penuh kompetisi, yang paling berbahaya bukan kekuatan fisik, tapi pikiran yang bisa melihat beberapa langkah ke depan. Bagi penonton lama maupun yang baru menemukannya, Classroom of the Elite bukan sekadar anime; ia adalah permainan catur emosional yang dingin tapi memikat. Karya ini terus membuktikan bahwa cerita sederhana dengan eksekusi cerdas bisa bertahan lama dan menyentuh jutaan orang.

