Review Anime Death Note. Anime Death Note tetap menjadi salah satu karya paling berpengaruh dan sering dibahas ulang hingga Januari 2026 ini, hampir dua dekade setelah tayang perdana pada 2006–2007. Mengikuti Light Yagami, siswa SMA jenius yang menemukan buku catatan kematian supernatural dan memutuskan menggunakannya untuk “membersihkan” dunia dari penjahat, seri ini berkembang menjadi duel intelektual sengit melawan detektif misterius bernama L. Dengan 37 episode yang padat, anime ini berhasil mengubah cerita sederhana tentang kekuasaan menjadi thriller psikologis yang gelap, penuh pertanyaan moral, dan ketegangan yang hampir tak tertahankan. Di tengah banjir cerita thriller modern yang sering mengandalkan kejutan cepat, Death Note justru terasa semakin kuat karena pendekatannya yang lambat terbangun, karakter yang kompleks, dan akhir yang tragis namun memuaskan. BERITA VOLI
Duel Intelektual yang Menjadi Puncak Seri: Review Anime Death Note
Kekuatan terbesar anime ini terletak pada paruh pertama, di mana Light dan L saling berhadapan dalam permainan pikiran yang hampir sempurna. Setiap episode terasa seperti langkah catur—Light merencanakan langkah jauh ke depan, L membaca pola dengan dingin, dan keduanya terus menguji batas satu sama lain. Animasi menangkap ketegangan itu dengan visual tajam: close-up mata yang penuh perhitungan, senyum tipis yang menyeramkan, dan keheningan panjang yang lebih menegangkan daripada dialog. L sebagai antagonis bukan sekadar lawan; dia eksentrik, cerdas luar biasa, dan punya cara berpikir yang membuat penonton ikut merinding. Light mulai dengan idealisme tinggi—membunuh penjahat untuk menciptakan dunia ideal—tapi lambat laun terjebak dalam egonya sendiri, menjadi monster yang lebih buruk dari orang-orang yang dia hukum. Duel ini berpuncak pada momen ikonik yang masih sering dibicarakan sebagai salah satu klimaks terbaik dalam sejarah anime, membuktikan bahwa konflik pikiran bisa jauh lebih mendebarkan daripada pertarungan fisik.
Karakter dan Tema Moral yang Tak Pernah Pudar: Review Anime Death Note
Karakter di Death Note adalah yang membuat seri ini abadi. Light bukan pahlawan atau penjahat sederhana; dia manusia biasa yang diberi kekuasaan absolut dan perlahan hancur olehnya. L mewakili keadilan sistematis yang dingin dan tak berperasaan, sementara Misa Amane menambahkan lapisan emosional dan tragis sebagai seseorang yang jatuh cinta pada monster. Near dan Mello di paruh kedua, meski sering dikritik karena tidak sebanding dengan L, tetap membawa dinamika baru dan menunjukkan bagaimana warisan Light terus berlanjut. Tema utama—apakah seseorang boleh membunuh untuk kebaikan yang lebih besar?—tidak pernah dijawab secara hitam-putih. Anime ini memaksa penonton mempertanyakan siapa yang benar, dan apakah “keadilan” Light benar-benar keadilan. Di awal 2026 ini, ketika diskusi tentang kekuasaan, pengawasan massal, dan moralitas teknologi semakin panas, pertanyaan-pertanyaan ini terasa lebih relevan daripada dulu. Banyak penonton muda bilang seri ini seperti peringatan tentang apa yang terjadi kalau seseorang punya kendali mutlak tanpa pengawasan—sesuatu yang mirip dengan kekhawatiran tentang AI atau kontrol informasi saat ini.
Seni dan Musik yang Mendukung Atmosfer Gelap
Animasi Death Note sederhana tapi sangat efektif. Desain karakter tajam dan ekspresif—mata Light yang dingin, postur aneh L, atau senyum Misa yang manis tapi gelap—semuanya langsung melekat di ingatan. Panel-panel besar sering digunakan untuk momen dramatis, seperti saat seseorang menulis nama di buku atau saat kematian datang, menciptakan rasa dingin yang merayap. Soundtrack-nya juga ikonik: lagu pembuka dan penutup yang intens, ditambah musik latar yang minimalis tapi menegangkan, memperkuat nuansa paranoia dan isolasi. Bahkan setelah bertahun-tahun, visual dan audio ini masih terasa modern dan sinematik—banyak penonton bilang menonton ulang terasa seperti film thriller psikologis berkualitas tinggi.
Kesimpulan
Death Note adalah salah satu anime thriller psikologis terbaik yang pernah ada—cerita yang cerdas, gelap, dan penuh pertanyaan moral yang tak pernah memberi jawaban mudah. Meski paruh kedua sering dikritik karena kehilangan sebagian ketegangan awal, keseluruhan seri tetap jadi pengalaman yang tak terlupakan, terutama duel Light versus L yang jadi salah satu pertarungan intelektual paling ikonik dalam sejarah anime. Di Januari 2026 ini, ketika banyak cerita baru mencoba meniru formula kekuasaan dan moralitas, Death Note masih berdiri tegak sebagai standar emas. Bagi penonton lama maupun baru, anime ini bukan sekadar tentang buku catatan kematian—ini tentang bagaimana kekuasaan mengubah orang, dan betapa tipisnya garis antara pahlawan dan monster. Sampai kapan pun, selama manusia masih bertanya “siapa yang berhak menentukan hidup dan mati?”, seri ini akan terus terasa seperti cermin yang tajam dan gelap.

