Review Anime Devilman Crybaby. Devilman Crybaby tetap menjadi salah satu karya anime paling mengguncang dan tak terlupakan yang pernah ada, bahkan setelah hampir delapan tahun sejak tayang perdana di akhir 2017; adaptasi ulang ini mengambil esensi gelap dari manga klasik karya Go Nagai dan membungkusnya dalam gaya visual modern yang liar, penuh warna neon, serta animasi yang berani bereksperimen, sehingga menciptakan pengalaman yang tidak hanya menawarkan aksi brutal dan horor tubuh tapi juga pertanyaan mendalam tentang kemanusiaan, cinta, kekerasan, serta batas antara baik dan jahat di dunia yang semakin terbelah. Meskipun sudah berlalu waktu cukup lama, banyak penonton—terutama generasi baru yang menemukannya melalui rekomendasi atau platform streaming—masih sering menyebutnya sebagai salah satu anime paling impactful yang pernah mereka tonton, karena cerita ini tidak pernah berusaha menyenangkan penonton melainkan menghantam mereka dengan kekerasan grafis, seksualitas eksplisit, serta tragedi emosional yang hampir tak tertahankan, membuatnya tetap relevan sebagai cermin gelap bagi masyarakat yang terus bergulat dengan kekerasan, identitas, dan hilangnya empati di era modern. BERITA BOLA
Latar dan Alur Cerita yang Menghancurkan: Review Anime Devilman Crybaby
Cerita mengikuti Akira Fudo, seorang pemuda biasa yang hidup tenang hingga sahabat masa kecilnya, Ryo Asuka, membawanya ke pesta liar yang berubah menjadi ritual pemanggilan setan; di sana Akira digabungkan dengan iblis Amon dan menjadi Devilman—makhluk yang mempertahankan hati manusia di dalam tubuh setan—sementara Ryo mengungkap rencana besar untuk membangkitkan kembali ras iblis dan memusnahkan umat manusia. Dari titik itu, alur bergerak cepat menuju kekacauan global: iblis mulai bangkit, manusia berubah menjadi monster karena ketakutan dan kebencian, dan Akira berjuang melindungi orang-orang yang dicintainya termasuk Miki Makimura serta keluarganya. Setiap episode meningkatkan skala kehancuran, dari pembantaian brutal di level pribadi hingga perang akhir zaman yang melibatkan jutaan nyawa, dengan twist besar yang mengubah perspektif seluruh cerita dan membawa penonton ke puncak tragedi yang nihilistik namun penuh makna, sehingga meskipun durasinya hanya sepuluh episode, rasanya seperti menyaksikan seluruh siklus kehancuran dan kelahiran kembali umat manusia dalam waktu singkat yang sangat padat dan melelahkan secara emosional.
Karakter dan Konflik Batin yang Mendalam: Review Anime Devilman Crybaby
Kekuatan utama Devilman Crybaby terletak pada karakter-karakternya yang ditulis dengan kejujuran mentah; Akira bukan pahlawan klasik yang selalu teguh—ia sering ragu, marah, putus asa, dan terjebak antara hasrat iblis yang kuat dengan sisa kemanusiaannya yang rapuh, membuat perjuangannya terasa sangat manusiawi meskipun tubuhnya sudah menjadi monster. Ryo Asuka hadir sebagai antagonis yang kompleks dan karismatik, dengan motivasi yang berakar pada rasa sakit mendalam serta pandangan sinis terhadap umat manusia, sehingga hubungan mereka—yang penuh kasih sayang, pengkhianatan, serta tragedi—menjadi inti emosional cerita. Karakter pendukung seperti Miki, teman-teman sekolah, serta berbagai iblis lain juga diberi ruang untuk berkembang, meskipun banyak dari mereka berakhir tragis, menekankan tema bahwa di dunia yang penuh ketakutan dan kebencian, bahkan orang-orang baik bisa jatuh ke dalam kegelapan. Konflik batin Akira yang terus bertanya “apakah manusia pantas diselamatkan?” menjadi benang merah yang membuat penonton tidak bisa lepas dari cerita ini.
Visual, Musik, dan Kekerasan yang Tak Kenal Ampun
Gaya visual karya studio yang terlibat dalam produksi ini benar-benar revolusioner: garis animasi yang bergetar, palet warna yang berubah-ubah dari cerah ke gelap pekat, serta transisi yang sering terasa seperti mimpi buruk cair menciptakan atmosfer yang unik dan menyesakkan. Setiap adegan kekerasan digambar dengan detail grafis yang ekstrem—darah, organ, transformasi tubuh yang mengerikan—tanpa sensor, sehingga terasa sebagai pukulan langsung ke wajah penonton. Musiknya, terutama penggunaan lagu-lagu elektronik dan rock yang intens serta OST yang minimalis di momen-momen sunyi, memperkuat rasa kacau dan putus asa yang menyelimuti cerita. Pendekatan ini bukan sekadar shock value; kekerasan di sini memiliki tujuan untuk menunjukkan betapa rapuhnya peradaban ketika rasa takut menguasai, serta bagaimana tubuh dan jiwa bisa menjadi medan perang yang paling mengerikan.
Kesimpulan
Devilman Crybaby adalah karya yang tidak bisa disebut ringan atau menghibur dalam arti konvensional—ia adalah pengalaman yang menyakitkan, menggugah, dan tak terlupakan yang memaksa penonton menghadapi sisi tergelap dari kemanusiaan tanpa memberikan jawaban mudah atau harapan palsu. Hampir satu dekade setelah rilis, anime ini masih sering dibicarakan sebagai salah satu adaptasi terbaik dari manga legendaris karena berhasil mempertahankan semangat asli sambil menambahkan lapisan modern yang relevan dengan isu kekerasan massa, identitas, serta pertanyaan eksistensial tentang keberadaan manusia. Bagi yang mencari cerita superhero atau aksi biasa, ini mungkin terlalu berat; tapi bagi siapa saja yang ingin menonton sesuatu yang benar-benar berani, mendalam, dan menghancurkan hati, Devilman Crybaby adalah masterpiece yang layak dialami setidaknya sekali dalam hidup—sebuah pengingat bahwa kadang, untuk memahami apa artinya menjadi manusia, kita harus melihat dunia ketika segalanya sudah hancur total.

