Overlord IV “Sasuga, Ainz-sama!” Kalimat pujian ikonik yang diucapkan oleh para Guardian (Penjaga Lantai) Nazarick kembali bergema. Setelah jeda empat tahun yang terasa lama, Overlord kembali dengan musim keempatnya untuk menegaskan posisinya sebagai raja dari segala anime Isekai bertema villain protagonist (protagonis penjahat).
Jika musim-musim sebelumnya berfokus pada Ainz Ooal Gown yang bermain peran sebagai petualang atau penakluk dalam bayang-bayang, Overlord IV membawa permainan ke level yang jauh lebih tinggi: Politik Kenegaraan dan Dominasi Dunia secara terbuka. Studio Madhouse mengadaptasi volume 10, 11, dan 14 dari novel ringan karya Kugane Maruyama, menyajikan kisah tentang bagaimana Sorcerer Kingdom (Kerajaan Penyihir) mulai menancapkan taringnya ke leher dunia. Ini bukan lagi tentang monster yang bersembunyi di dalam makam; ini adalah tentang monster yang duduk di atas takhta, dan dunia harus memilih: tunduk atau musnah.
Dari Penakluk Menjadi Penguasa
Pergeseran tone atau suasana sangat terasa di musim ini. Ainz tidak lagi sekadar memamerkan otot sihirnya di medan perang; ia kini harus memikirkan logistik, ekonomi, dan diplomasi. Premis utamanya adalah upaya Ainz untuk menciptakan “utopia” di mana semua ras bisa hidup berdampingan di bawah benderanya—tentu saja, dengan metode yang sangat dipertanyakan.
Komedi kesalahpahaman (misunderstanding comedy) yang menjadi ciri khas seri ini tetap menjadi bumbu utama. Sangat menghibur sekaligus miris melihat Ainz (yang aslinya hanyalah pegawai kantoran biasa bernama Satoru Suzuki) panik secara internal karena tidak paham urusan kenegaraan, sementara Demiurge dan Albedo menafsirkan setiap gumaman tidak jelasnya sebagai rencana jenius berdurasi 10.000 tahun. Dinamika “Bos yang tidak kompeten tapi dianggap Dewa oleh bawahan yang terlalu kompeten” ini dieksekusi dengan timing komedi yang sempurna, memberikan jeda napas sebelum penonton disuguhi kekejaman yang sesungguhnya.
Eksplorasi Dunia: Arc Dwarf dan Rune
Salah satu sorotan di pertengahan musim adalah perjalanan Ainz ke Kerajaan Dwarf. Di sini, kita kembali melihat sisi “petualang” Ainz yang haus akan pengetahuan (dan loot langka). Interaksi Ainz dengan para kurcaci dan upayanya memonopoli teknologi Runesmith memperluas world-building seri ini.
Madhouse berhasil menggambarkan budaya dan arsitektur bawah tanah para Dwarf dengan cukup baik. Ainz di sini terlihat lebih “manusiawi” dan santai dibandingkan saat ia berada di istananya sendiri. Ia bernegosiasi, merekrut talenta, dan bahkan menjalin hubungan dagang. Bagian ini penting untuk menunjukkan bahwa Ainz sebenarnya bisa menjadi pemimpin yang benevolen (baik hati) asalkan pihak lain mau bekerja sama dan berguna baginya. Namun, ini juga menjadi kontras yang mengerikan bagi nasib mereka yang menolak bekerja sama.
Runtuhnya Re-Estize: Definisi Brutalitas
Puncak dari Overlord IV—dan mungkin salah satu momen paling gelap dalam sejarah anime isekai—adalah invasi ke Re-Estize Kingdom. Jika Anda masih berharap Ainz adalah “anti-hero” yang memiliki moralitas, musim ini akan menampar Anda dengan keras. Ainz adalah penjahat (villain). Titik.
Penghancuran Re-Estize bukanlah perang penaklukan; itu adalah pemusnahan massal. Perintah Ainz sederhana namun mengerikan: “Hancurkan sampai tidak tersisa.” Madhouse tidak menahan diri dalam menggambarkan keputusasaan rakyat dan bangsawan Re-Estize. Salah satu momen terbaik adalah pertemuan terakhir antara Pangeran Zanac dan Ainz. Zanac, yang awalnya terlihat seperti karakter sampingan yang licik, justru tampil sebagai bangsawan sejati yang berani menatap mata kematian dengan hormat. Percakapan filosofis antara “Raja Manusia” dan “Raja Mayat Hidup” ini memberikan bobot emosional yang mendalam, sebelum akhirnya ditutup dengan tragedi yang ironis. (berita sepakbola)
Putri Renner: Wajah Asli Iblis Overlord IV
Karakter lain yang mencuri perhatian di babak akhir adalah Putri Renner. Transformasi dan pengungkapan sifat aslinya yang sosiopat menjadi plot twist yang memuaskan (bagi yang belum membaca novelnya).
Lagu penutup khusus di episode 14 yang menampilkan tarian musikal Renner sambil bernyanyi tentang cinta obsesifnya pada Climb, di tengah reruntuhan kerajaannya sendiri, adalah masterstroke penyutradaraan. Adegan itu indah, mengerikan, dan gila di saat yang bersamaan. Ini menegaskan tema Overlord bahwa monster yang paling menakutkan terkadang bukanlah yang berwujud tengkorak, melainkan manusia dengan senyum malaikat.
Visual dan CGI: Masalah Klasik
Sayangnya, penyakit lama Madhouse kembali kambuh: CGI. Meskipun ada peningkatan dibandingkan musim ketiga (terutama “kambing” CGI yang infam itu), animasi untuk pasukan dalam jumlah besar masih terlihat kaku dan copy-paste.
Pertarungan antara Ainz dan Martial Lord di arena colosseum juga terasa kurang impactful secara visual dibandingkan potensinya. Namun, desain karakter dan latar belakang tetap detail. Albedo, Shalltear, dan Cocytus digambar dengan konsistensi tinggi. Efek sihir tingkat tinggi Ainz tetap terlihat megah dan mengintimidasi, cukup untuk menyampaikan skala kekuatannya.
Albedo: Diplomat atau Bom Waktu?
Musim ini juga memberikan porsi lebih besar pada Albedo. Bukan hanya sebagai pemanis (fan-service) yang terobsesi pada Ainz, tetapi sebagai Perdana Menteri yang kompeten dan kejam. Kunjungannya ke Re-Estize menunjukkan betapa cerdas dan manipulatifnya dia. Namun, penonton yang jeli juga bisa melihat retakan kecil dalam kesetiaannya—bukan pada Ainz, tapi pada “Supreme Beings” lainnya. Subplot ini dibangun perlahan namun pasti, menambah lapisan ketegangan internal di Nazarick.
Kesimpulan Overlord IV
Overlord IV adalah demonstrasi kekuatan. Ia tidak mencoba untuk menjadi cerita kepahlawanan. Ia mengajak penonton duduk di sisi penjahat dan menikmati proses dominasi dunia yang sistematis dan tanpa ampun.
Bagi penggemar yang menyukai politik fantasi gelap, strategi militer, dan protagonis yang tidak ragu membantai jutaan nyawa demi “keluarganya”, musim ini sangat memuaskan. Meskipun terganjal masalah teknis CGI dan pemadatan cerita (tiga volume novel dalam 13 episode terasa agak terburu-buru di beberapa bagian), Overlord IV sukses memperluas skala ceritanya secara masif. Sang Raja Penyihir telah bangkit dari takhtanya, dan dunia anime harus kembali menundukkan kepala: Sasuga Ainz-sama!
review anime lainnya ….
