Review Anime Chitose Is In The Ramune Bottle. Anime Chitose Is in the Ramune Bottle yang tayang sejak Oktober 2025 menjadi salah satu serial rom-com sekolah yang paling ramai dibahas hingga akhir tahun ini. Adaptasi dari light novel populer ini mengikuti Saku Chitose, siswa SMA super populer yang dikelilingi teman-teman keren, tapi sering diminta membantu menyelesaikan masalah sosial teman sekelasnya. Bersama “Team Chitose”, ia menghadapi kasus shut-in, rumor online, dan dinamika pertemanan yang rumit. Dengan format split-cours dan beberapa delay produksi, anime ini menawarkan cerita character-driven yang lebih dalam dari sekadar harem biasa, meski sering menuai kritik atas protagonisnya. BERITA BOLA
Alur Cerita yang Fokus pada Karakter: Review Anime Chitose Is In The Ramune Bottle
Alur Chitose Is in the Ramune Bottle bergerak lambat tapi terstruktur, dengan setiap arc menyoroti satu masalah sosial di lingkungan sekolah. Chitose, yang digambarkan sebagai “marble di botol ramune”—terjebak tapi berusaha mencapai luar—membantu karakter seperti Kenta Yamazaki yang shut-in atau Yuzuki Nanase dengan masa lalu sulit. Cerita mengeksplor tema popularitas, tekanan sosial, dan pertemanan sejati tanpa terlalu dramatis. Meski awalnya terasa klise, perkembangan emosional di episode tengah membuatnya lebih engaging. Delay episode membuat penonton sabar menunggu, tapi klimaks arc memberikan payoff yang memuaskan bagi yang bertahan.
Karakter yang Polarizing tapi Relatable: Review Anime Chitose Is In The Ramune Bottle
Protagonis Saku Chitose adalah sumber utama kontroversi—banyak penonton menganggapnya narcissistic dan pretentious karena monolog filosofisnya yang berlebihan. Namun, seiring cerita, sisi vulnerable-nya terungkap, membuatnya lebih human dan relatable. Karakter wanita seperti Yūko Hiiragi yang tsundere, Yuzuki Nanase yang kompleks, dan Asuka yang cool memberikan dinamika harem ringan tapi tidak dominan. Team Chitose secara keseluruhan terasa seperti kelompok teman ideal, dengan interaksi natural yang hangat. Pengisi suara solid, terutama untuk Chitose, berhasil menyampaikan nuansa arrogant tapi caring yang jadi inti cerita.
Produksi Visual dan Suara yang Menonjol
Animasi dari studio Feel patut diacungi jempol, dengan warna cerah yang menangkap esensi youth nostalgia—matahari terbenam, langit biru, dan ekspresi karakter detail. Opening dan ending energik, dengan lagu tema yang catchy dan visual simbolis seperti marble ramune. Soundtrack piano lembut mendukung momen emosional, sementara direction episode awal sering dipuji karena storyboard indah. Meski ada kritik animasi tidak konsisten di bagian tengah karena delay, overall visual berhasil menciptakan vibe idealized high school yang menggugah. Desain karakter sederhana tapi ekspresif membuat adegan dialog terasa hidup.
Kesimpulan
Chitose Is in the Ramune Bottle adalah anime rom-com 2025 yang lebih dari sekadar trope sekolah biasa—ia menawarkan refleksi mendalam tentang popularitas dan masalah remaja dengan sentuhan humor ringan. Meski protagonis polarizing dan pace lambat membuatnya tidak untuk semua orang, kekuatan di character development dan visual estetik membuatnya worth watching bagi penggemar genre slice-of-life drama. Dengan cours kedua yang dijanjikan, anime ini punya potensi tumbuh lebih kuat. Cocok untuk yang suka cerita youth thoughtful ala Oregairu atau Tomozaki, serial ini layak dicoba meski dengan ekspektasi realistis. Di akhir 2025, ia jadi salah satu hidden gem musim gugur yang patut diikuti!

